Joker: Kekejaman Lidah Orang yang Merasa Baik

- Oktober 20, 2019


JOKER: KEKEJAMAN LIDAH ORANG YANG SUDAH MERASA BAIK

Oleh: Ust. Dr. Miftah el-Banjary

Joker berfokus pada perjalanan sosok komedian gagal, Arthur Fleck (dibintangi Phoenix), pria yang diabaikan oleh masyarakat dan berubah menjadi penjahat yang sangat keji.

Arthur tumbuh dari masyarakat kalangan bawah yang terus gagal untuk meraih kesuksesan dalam profesinya sebagai komedian stand up. Hidupnya kerap dirundung pilu.

Hal itu diperjelas dalam trailer, kala berusaha menghibur seorang anak kecil di dalam bus sekalipun raut muka Arthur Fleck terlihat sedang diliputi rasa kecewa dan putus asa. Ia kemudian dihardik oleh ibu si anak karena dianggap mengganggu.

Selain itu, pekerjaannya sebagai badut yang bertugas memegang papan penanda di jalanan membuatnya dirundung, bahkan pernah sampai terkapar di sebuah gang. Arthur Fleck tampak terbiasa diperlakukan tak adil oleh lingkungan sekitar.

Titik terbawah hidup Arthur terjadi saat ia diolok-olok oleh presenter yang diperankan Robert De Niro lewat siaran TV nasional. Begitu banyak kekecewaan yang membuatnya menjadi pribadi pahit dan akhirnya, berubah menjadi pembunuh.

Arthur mengubah identitas dirinya dengan menjadi Joker, menampilkan pribadi baru yang jahat.

Ya, ini hanya sekedar film. Tapi, dalam kehidupan realitas, fenomena yang mirip atau bahkan sama boleh jadi terjadi hal yang sama.

Kisah nyata terjadi pada pribadi seorang sastrawan Arab besar bernama Thaha Husien. Seorang anak jenius yang mengalami kebutaan semenjak lahir. Meski dalam keadaan buta, Husien mampu mengkhatamkan hapalan al-Qur'an pada usia 7 tahun.

Dalam usia dini, Husien telah dikenal sebagai anak yang memiliki prestasi gemilang. Dia pernah meraih juara hafidz cilik yang menobatkan dirinya patut disebut sebagai seorang hafidz.

Namun apa yang terjadi dengan orang-orang di sekelilingnya yang tak melihat prestasi gemilangnya hanya lantaran dia terlahir dalam keadaan buta. Orang-orang yang merasa dirinya shaleh sudah merasa lebih baik dan lebih suci.

Seorang ulama Azhar memanggilnya dengan sebutan "Ya Dhaiyyir" atau "Si buta". Panggilan itu rupanya punya kesan mendalam yang sangat menyakitkan di dalam hati anak jenius itu. Husien sangat membenci panggilan itu.

Bahkan dia sangat membenci semua yamg beraroma al-Azhar. Meski Thaha Husien pernah belajar di al-Azhar. Namun, dia tidak mau menyelesaikannya, disebabkan ketidaksesuaian hatinya dengan lingkungannya.

Thaha Husien, justru menyelesaikan kuliah di Darul Ulum Cairo University. Berguru pada para pemikir Barat yang mengarahkannya kritis terhadap ajaran Islam. 

Pertemuannya dengan para gurunya, seperti Prof. Nallino, Prof. Ennolittman dan Prof. Santilana mengenal ide-ide pembaharuan sekulerisme yang selanjutnya mengantarkannya ke tahap jenjang magister di Sorbonne University, Prancis. 

Di sana, Thaha Husien yang jenius dan pernah menjadi penghapal al-Qur'an, justru berubah menjadi pengkritik Islam dan ulama al-Azhar. Perlakuan masa kelam dan sakit hatinya merubah sudut pandangnya menjadi pembenci ulama dan Islam. 

Dengan keilmuannya yang mendalam, Thaha Husien bukan menjadi seorang ulama, padahal sekiranya dia menjadi ulama bisa sekelas Syekh Kisyk atau lebih dari itu. Terbukti, dalam bidang Syair Arab, dia mendapat julukan sebagai "Amid Syair Araby" atau Bapak Sastrawan Arab".

Namun, barangkali sudah menjadi pilihannya, untuk memilih sebagai pengusung sekulerisme dan liberalisme yang terus menerus menyerang Islam. Mungkin sudah menjadi pilihannya. 

Tapi, apa yang menjadi pilihan Thaha Husien tidak terlepas dari sejarah kelam masa kecilnya yang pernah diperlakukan tidak adil. Barangkali dari kisah ini kisah dapat belajar bahwa jangan pernah melontarkan kata-kata yang mengerdilkan siapa pun. 

Betapa banyak orang yang semula ingin berubah menjadi baik, akhirnya berbalik menjadi keadaan semulanya hanya lantaran mendapatkan cemoohanan dan hinaan saat ia berproses menjadi orang baik. Wallahu 'alam.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search