Catatan Buat Menag yang Tak Baca Shalawat Saat Khutbah

- November 06, 2019


Catatan Untuk Menag Terkait Hukum Khatib yang Melewatkan Shalawat, Apakah Sah Shalat Jum'atnya?

Oleh: KH. DR. Miftah el-Banjary, MA

Ramai di media sosial terkait Khutbah Menag yang dalam banyak pemberitaan media online memberitakan bahwa Menteri Agama yang baru itu menjadi Khatib di Masjid Istiqlal (01/11/19), namun yang bersangkutan melewatkan ucapan Shalawat pada Muqadimah Khutbahnya.

Saya banyak ditanya orang terkait perihal itu, saya pun mencoba mengamati langsung video khutbah tersebut yang banyak dimuat di Youtube. 

Setelah saya amati dan analisa, sependek pengetahuan saya, saya pun berkesimpulan dan berpandangan bahwa memang ada beberapa kekeliruan yang dilakukan oleh Pak Menag terkait hukum rukun khutbah tersebut. 

Pertama, beliau tidak sempurna mengucapkan Hamdalah (tidak fasih pelafalannya, mungkin terlalu cepat dan tidak mutqin). Kedua, beliau melewatkan membaca Shalawat Nabi sesudah ucapan Hamdalah tersebut. 

Saya menuliskan pandangan saya ini, bukan bermaksud membeberkan kekeliruan seseorang atau berkeinginan untuk mempermalukan siapa pun, namun insya Allah, semata untuk bertabayun sekaligus meluruskan berdasarkan pandangan para ulama mazhab terkait persoalan ini.

Harapannya agar bisa menjadi pembelajaran bagi siapa saja untuk lebih berhati-hati dan selektif dalam menunjuk seseorang yang akan menjadi pemimpin, imam, atau khatib dalam prosesi ritual ubudiyyah kaum muslimin, dalam hal ini terkait Khatib Shalat Jum'at.

Bagaimana pandangan para Ulama Mazhab Syafieyyah terkait seorang Khatib yang tidak menyertakan Shalawat pada Muqadimah khutbahnya?

Menurut Imam Nawawi di dalam kitab Matan al-Minhaj halaman 64:

وأركانها خمسة: حمد لله تعالى، والصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولفظهما متعين...

"Dan rukun Khutbah itu ada lima, diantaranya: mengucapkan lafadz Hamdalah dan Shalawat kepada Rasulullah Saw. Dan lafadz keduanya sudah ditentukan.."

Dalam pengertian ini, bahwa jika salah seorang khatib ketinggalan/terlewatkan membaca Hamdalah dan Shalawat, maka rukun khutbahnya Tidak Terpenuhi alias TIDAK SAH.

Mensyarahkan penjelasan ini, Imam Muhammad Zuhri al-Ghamrawy di dalam kitab "As-Siraj al-Wahhaj" menuliskan: "فلا يجزى الشكر والثناء" yang maksudnya tidak cukup atau tidak terpenuhinya rukun khutbah, jika hanya dalam bentuk ucapan syukur dan pujian semata, tanpa disertai ucapan Shalawat Nabi, maka hukumnya TIDAK SAH RUKUN KHUTBAHNYA.

Bagaimana terkait hukum jika seorang khatib tidak sempurna atau tidak terlalu fasih dalam pengucapannya seperti ucapan terkait Hamdalah yang seakan tidak terdengar jelas atau tidak diketahui jelas adakah disertakan lafadz Allah atau tidak?

Allamah Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi di dalam kitab "Hawasyi al-Madaniyyah" halaman 62 menjawab sebagai berikut:

ويشترط كونه بلفظ الله ولفظ حمد وما اشتق منه كالحمد لله أو أحمد الله أو لله أحمد أو لله الحمد أو أنا حامد الله. 
فخرج الحمد الله "الحمد للرحمن" والشكر لله ونحوهما فلا يكفي.

"... dan disyaratkan lafadz ucapan Hamdalah itu harus disertai lafadz Allah, baik dalam bentuk jadian kata, seperti: Alhamdulillah, Ahmadulllah, Lillahi Ahmad, Lilllah alhamd, atau Ana Haamidullah. Namun, tidak cukup jika hanya mengucapkan "Alhamdu lil Rahman" atau "As-Syukr lillah" saja, (Hamdalah tanpa disertai lafadz Allah), maka tidak cukup (TIDAK SAH).

Imam Syamsudin Khatib as-Syarbaini di dalam kitab "Mughni al-Muhtaaj" juz 1 halaman 627 pada bab "Shalat al-Jum'ah" juga berpendapat hal yang serupa :

ويتعين لفظ ((الله)) فلا يجزى ((الحمد للرحمن)) أو ((الرحيم)) كما نقله الرفعي مقتضى كلام الغزالي.

"Lafadz Hamdalah harus disertai dengan lafadz "Allah" dan tidak mencukupi atau tidak sempurna hanya dengan lafadz "Alhamdu lil Rahman" atau "Alhamdu ar-Rahiim", sebagaimana yang dikutip oleh Imam ar-Rafie dari perkataan Imam al-Ghazali.."

Pada video tersebut, maaf dalam analisa saya, Bapak Menteri Agama, agaknya kurang fasih dalam pengucapan Hamdalah, sehingga terdengar agak janggal, sebab isim mausul (الذي) yang diucapkan setelah lafadz Alhamdulillah, tidak diucapkan secara sempurna. 

Maka yang terdengar, beliau mengucapkan (الحمد لله للذي) "Alhamdulillah Lilladzi" seharusnya (الحمد لله الذي) Alhamdulillahilladzi, bukan Alhamdulillah Lilla Dzi (ada satu huruf alif yang hilang dan berganti pada pengucapannya huruf lam pada isim Mausul الذي), sehingga lafadznya terdengar agak janggal dan sedikit bermasalah di pendengaran mereka yang paham dan mengerti betul bahasa Arab.

Jadi dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa jika ucapan Hamdalah yang tidak disempurnakan ucapannya, sehingga terdengar tidak jelas, samar, apalagi ketinggalan lafadz tersebut, maka rukun khutbahnya boleh jadi sangat berpotensi tidak sempurna alias TIDAK SAH. 

Mungkin pada bagian ini bisa menjadi catatan bagi Bapak Menteri Agama untuk belajar lagi menfasihkan lidah dalam pengucapan bahasa Arab dan mempelajari hukum terkait rukun-rukun Khutbah, agar kekeliruan serupa tidak terulang kembali. 

Selanjutnya "Bagaimana hukum terkait seorang khatib yang ketinggalan mengucapkan Shalawat pada khutbah Jum'atnya, bagaimana hukumnya dan pandangan ulama mazhab di dalam mazhab Syafi'e?"

Mari kita buka lagi kitab Fiqh lainnya, seperti kitab "Hasyiah Syekh Ibrahim al-Baijury" yang disyarah oleh Allamah Qasim Ghazi juz 1 pada halaman 323: 

"..تشتمل على الأركان ما عدا الصلاة لعدم آية تشتمل عليها لم تكف لأنها لا تسمى خطبة..."

"...semua rukun (khutbah) selain shalawat tidak (boleh) ditiadakan ucapannya meskipun terdapat dalam ayat al-Qur'an, dan hal itu tidak memadai dan tidak pula dinamakan khutbah (Jum'at).."

Pada kitab tersebut di atas dijelaskan sebelumnya, sekiranya ada satu ayat al-Qur'an yang diucapkan sebagai pengganti hamdalah, seperti lafadz: 

 ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِی خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضَ وَجَعَلَ ٱلظُّلُمَـٰتِ وَٱلنُّورَۖ ثُمَّ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ بِرَبِّهِمۡ یَعۡدِلُونَ

Maka sudah cukup memenuhi rukun khutbah pertama, yaitu kewajiban mengucapkan "Hamdalah". Namun, tidak dengan posisi Shalawat. 

Posisi Shalawat menempati bagian khusus yang tidak bisa digantikan dengan ayat dan harus diucapkan dengan lafadz tertentu, sekurang-kurangnya ucapan lafadz:

اللهم صلى على سيدنا محمد 

Nah, jika ucapan shalawat itu tidak diucapkan secara sempurna, misalnya:

صلوا على النبي

maka juga tidak memenuhi rukun khutbah. 

Lebih-lebih, jika memang dilewatkan dan tidak diucapkan sama sekali, maka hukumnya jelas TIDAK SAH. 

Maka yang menjadi sorotan dalam persoalan ini, sekali lagi terkait soal ucapan Shalawat pada Muqadimah Khutbah Jum'at. Soal nanti ada shighat di akhir khutbah atau pada Khutbah kedua, itu lain lagi bab persoalannya.

Yang jelas, pokok persoalan yang dibahas dan dibicarakan oleh seluruh para ulama mazhab Syafie yang menyepakati bahwa shalawat merupakan rukun khutbah yang sangat penting menentukan Rukun Khutbah, sah dan tidaknya Shalat Jum'at, itu persoalan pada awal pembuka Khutbah. 

Kesimpulannya, ada dua hal yang tidak atau kurang terpenuhi terkait hukum dan rukun khutbah jum'at pada kasus di atas. 

Pertama, beliau tidak sempurna mengucapkan Hamdalah, mungkin masih bisa disempurnakan lagi. Kedua, jika beliau memang benar tidak menyertakan shalawat Nabi Saw, maka sangat berpotensi tidak sah menurut hukum Fiqh. Ketinggalan Shalawat pada rukun Khutbah, bagian ini fatal menurut pandangan para ulama Fiqh, sebagaimana telah dijelaskan diatas.

Sedangkan kedua sighat atau ucapan Hamdalah dan Shalawat tersebut secara hukum Syariah Fiqhiyyah menjadi rukun khutbah penentu sah dan tidaknya Khutbah Jum'at, pada saat yang sama juga penentu sah dan tidaknya Shalat Jum'at. 

Semoga dengan terlupakannya shalawat tidak sampai pada hadits Nabi Saw:

من نسي الصلاة علي نسي طريقا إلى الجنة

"Barangsiapa yang lupa bershalawat padaku, maka dia akan terlupa jalan menuju surga."

Semoga saja menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tidak tampil mengimami soal ubudiyyah kaum muslimin, jika memang bukan ahli dan belum mengerti tentang hukum syariahnya secara mendalam dan sempurna. 
Sekali lagi, Wallahu 'alam. []

Referensi:

1. السراج الوهاج على متن المنهاج للإمام النووي
2. مغنى المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج للشيخ شمس الدين محمد الخطيب الشربيني
3. الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع للشيخ شمس الدين محمد خطيب الشربيني
4. حاشية الشيخ إبراهيم اليجوري على شرح العلامة قاسم الغزي.
5. حواشي المدانية للعلامة الشيخ محمد بن سليمان الكردي
6. التنبيه في الفقه الشافعي لأبي إسحاق إبراهيم بن علي الشيرازي الفيروزبادي.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search