Bertemu Sekali, Kebaikannya Jutaan

- Desember 02, 2020


Tepat dua bulan lalu saya bertemu dengan Engkong Bowo (Nurbowo). Di Gedung Dewan Da'wah Pusat, Kramat Raya, Jakpus. Itu pertemuan pertama.

Dan gak nyangka, itu sekaligus menjadi pertemuan terakhir di dunia ini. Persis; bertemu sekali, tapi kebaikan beliau kepada kami jumlahnya jutaan bahkan lebih.

Sebab pagi ini, terasa benar-benar seperti mimpi. Begitu melihat ponsel usai Subuh, kabar meninggalnya beliau terasa menyesakkan dada.

"Mas," kata istri setengah berteriak melihat unggahan kawan di fesbuk, "Pak Bowo meninggal?"

Saya melompat dari tempat tidur. Mengambil ponsel dan mengecek semua media sosial. 

Facebook, dua grup WA yang kami bersama; mengkonfirmasi keabsahan meninggalnya beliau. Dengan derai air mata, saya berucap lirih; Inna lillahi wa Inna ilaihi roji'un.

"Engkong telah pulang, tapi kenapa gak bilang-bilang?"

Kalimat itulah yang ingin saya sampaikan ke beliau. Sebab beliau selalu ada di banyak kegiatan yang dijalani atas nama dakwah. Beliau kerap japrian dengan saya, juga ringan membantu saat kita membutuhkan. 

Beliau menghubungi saya saat kepulangan Umar dari Rumah Sakit pasca operasi. Biaya operasi 24 juta. Gak bisa ditanggung bpj* atau asuransi apa pun. 

Alhamdulillah ada bantuan dari Baznas, nilainya 5 juta. Alhasil, untuk menutupi biaya operasi itu, saya memilih jalan berhutang karena tidak ada tabungan dan tidak punya aset untuk dijual kecuali buku. Buku pun nilainya sekitar 10 juta. Masih jauh. 

Si engkong, tiba-tiba mengirim pesan. Katanya, "Ana ada motor nih. Antum pasarin. Antum jual. Duitnya buat bayar hutang antum. Emang enak hidup punya hutang?"

Kalimat terakhir itu candaan. Beliau emang piawai bercanda. Hari-hari kami terasa kocak dan menunggu candaan beliau yang cerdas. 

Pernah saya tanya: Ngkong, kalau di grup mbok serius seperti saat japri.

Dengan santai, engkong membalas: Ntar dikira ustadz lagi. 

Menjawab tawaran untuk menjual motornya itu, saya menolak halus. Alasannya, beliau sudah membantu di awal untuk operasional selama mondar-mandir di rumah sakit. 

Tanpa hujan tanpa angin, beliau mengirim bukti transfer. Nilainya fantastis. 4 juta rupiah. Katanya: semoga bisa membantu kesembuhan Umar. 

Saya bilang ke engkong: tenang, Ngkong. Doain aja. Hutang ini bisa ane cicil. Motor antum jual aja, tapi buat kita bangun masjid di Mentawai ya?

Beliau menjawab: jangan, masih suka dipakai sama guru ngaji di sini. 

Sehari kemudian, saya mengkonfirmasi ke Ustadz Hendy, bahwa motor itu satu-satunya punya beliau dan memang kerap digunakan untuk guru ngaji dan operasional beliau sehari-hari. 

Ya Allah... Sekali kami bertemu, tapi kebaikan beliau jutaan bahkan tak ternilai. 

Sebelum ini, beliau berkali-kali memberikan kejutan. Termasuk kiriman es krim di bulan puasa yang jumlahnya dua box besar. Ya Allah, saya yang gak suka es krim lekas menikmati karena tahu pengirimnya orang shalih.

Insya Allah, Engkong Syahid

Sepulangnya saya dari Sumatera Barat, Engkong mendampingi Ketua Umum Dewan Da'wah keliling Lampung, Palembang dan Bengkulu. Saya protes karena tidak diajak. Tapi beliau menimpali: kami naik mobil, gak bisa beliin tiket Garuda buat antum.

Di sepanjang perjalanan, beliau selalu mengirim kabar juga berita dakwah. Tak ketinggalan, selfie-selfie beliau yang gak jelas sehingga kami tertawa. Memang itulah hiburan beliau sebagai da'i.

Selasa pagi, beliau memberi kabar harus ke Padang. Kabarnya ada agenda mendadak untuk mengurus dai di sana. 

Dan pagi ini, kami serasa mimpi padahal kondisi terjaga. Kabar kepulangannya benar-benar membuat kami terhenyak. 

Barulah kami tahu, semalam beliau mendadak pingsan saat di perjalanan. Beliau diantar ke salah satu puskesmas di Pesisir Selatan, Sumbar. Sempat ponsel beliau dipegang oleh kawan sesama dai, dan mengirim pesan di grup, tapi kami tidak paham dan tidak merespons karena dini hari. 

Bunyi pesan itu: Bapak yg punya hp lagi sakit dan dirawat di RS di pesisir Selatan.

Tiga jam setelah pesan itu ditulis di grup, gambar jenazah beliau di atas bed puskesmas/rumah sakit masuk ke grup. Benar. Itu jasad beliau. Rasanya masih seperti mimpi. 

Hanya mampu mendoakan, semoga Allah Ta'ala anuegerahkan syahid kepada Engkong Bowo. Sebab engkong orang baik, meninggal dengan cara baik, di jalan penuh kebaikan bernama dakwah.

"Ngkong, ngapa dah pergi gak bilang-bilang? Kita kan belum ke Mentawai bareng, bangun masjid dan ntraktir da'i."


Muridmu,

Pirman

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search