Dua Permintaan untuk Tuan Guru Bajang

- Maret 07, 2019

Dua Permintaan untuk Tuan Guru Bajang

Andai Tuan Guru tak lagi posting di facebook setelah libur hampir satu bulan, saya tak akan menulis surat ini. Tapi karena Tuan Guru kembali menulis dan kontroversif, izinkan saya menyampaikan dua permintaan.




Kami sudah membaca pernyataan Tuan Guru bahwa Pak Jokowi tidak mengkriminalisasi ulama. Tuan Guru memang cerdas dengan menggunakan contoh dai yang tetap bisa berkeliling Indonesia untuk menebarkan kebaikan.

Tapi, Tuan Guru tidak adil. Sebab, Tuan Guru tidak berusaha menggali dan bertanya mendalam kepada para dai yang mengalami kriminalisasi. 

Karena terlalu banyak kasus, kami hanya ingin meminta penjelasan kepada Tuan Guru soal kejadian 411 (Jum'at, 4 November 2016). 

Tuan Guru tentu masih ingat. Jutaan ummat Islam berjalan santai dan damai dari Masjid Istiqlal menuju Istana Negara. Kami berada di depan Istana, tapi Pak Jokowi pergi ke Tangerang.

Saya aja orang Tangerang ke Istana, kok beliau malah ke Tangerang?

Di depan Istana, kami beraksi dengan damai. Hingga menjelang Maghrib, kami membaca Ayat Kursi berjamaah untuk meminta perlindungan Allah dari genderuwo. Kemudian dilanjutkan dengan dzikir dipimpin Panglima Dzikir, Kiyai Haji Muhammad Arifin Ilham.

Adzan Isya' berkumandang. Semua diam. Kami mendengar adzan dari Masjid Istana. Sejuk. Damai. Setelah usai, kami berdoa semoga aksi lekas diselesaikan setelah mendapatkan kabar baik dari Istana.




Tapi, seperti petir yang menyambar. Saya yang sedang duduk santai sambil ngobrol dengan kawan, tiba-tiba melihat tembakan pertama diarahkan ke pohon di dalam taman depan Istana.

Kami tak menyangka. Benar-benar tak habis pikir. Tembakan yang terdengar kencang dan mengepulkan asap. Kami kira hanya sekali, sebagai peringatan. Ternyata berkali-kali, ke atas bahkan ada yang horisontal.

Tuan Guru masih ada di sana saat itu? Saya, tiga anak saya dan saudara ipar ada di sana saat itu. Kami merasakan pedihnya gas air mata. Tapi yang belum bisa kami terima: kenapa rakyat dan ulama ditembaki.

Nah, ini permintaan pertama. Tolong Tuan Guru sampaikan kepada Pak Jokowi. Apakah ini bukan termasuk kriminalisasi?

Kedua, Tuan Guru merupakan sosok yang lembut dan teladan dalam banyak karakter positif. Santun. Kalem. Dan lainnya. 




Nah, tolong tanyakan, mengapa Pak Jokowi berkali-kali menyampaikan pernyataan yang tidak sesuai dengan fakta.

Soal bantuan gempa Lombok saja, misalnya, beliau bilang kelar sepekan ya? Faktanya ya berbulan-bulan. Soal kebakaran hutan pada debat kedua, juga akhirnya dikoreksi. Bahkan dikoreksi oleh lembaga terkait. Dan masih banyak contoh lainnya.

Ini yang kedua. Tolong ditanyakan. Apakah masih dalam tahap dibolehkan, tabiat manusia yang suka lupa, atau bagaimana.

Tuan Guru, jika dua hal ini dijawab, Saya akan lanjutkan ke pertanyaan berikutnya. Insya Allah.

Oya, netizen ada pertantaan juga? 

Pirman
Pecinta Keluarga Sejati


Tarbawia
Bijak Bermedia, Hati Bahagia

Bergabung Untuk Dapatkan Berita/Artikel Terbaru:

Info Donasi/Iklan:

081391871737 (Telegram)



Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search