Virus Teroris Anti-Islam di Nusantara, Kenali Oknumnya!



Selandia Baru tadinya dianggap negara teraman nomor #2 sedunia setelah Islandia. Demikian menurut situs gfmag.com yang dilansir tahun 2018. Sampai-sampai pengawal wakil presiden RI, Jusuf Kala, berkunjung ke negeri Kiwi tersebut diharuskan melucuti senjatanya.




Namun pembantaian terhadap kaum Muslimin saat melaksanakan ibadah sholat Jumat di masjid pekan lalu jelas akan mencoreng dari daftar itu. Perdana Menteri Jacinda Ardern mengatakan akan berkomitmen untuk memperketat dan mengubah peraturan kepemilikan senjata yang ada.



Siapa Inspirator Terorisme?

Bila kita hendak menelusuri latar belakangnya, si pelaku pembunuhan massal di Selandia Baru itu menuliskan kekagumannya kepada pembunuh massal sebelumnya yang telah membantai para imigran dan kaum Muslimin di Norwegia dan Quebec. Bahkan dia adalah pengagum Donald Trump yang terkenal anti-Islam. 
Jadi, tidak heran.




Yang kita tunggu adalah apakah media dan pihak yang berwajib akan mengaitkan pelaku ini dengan ideologi yang menginspirasi kejahatannya? Sebagaimana yang selama ini dilakukan terhadap Islam?



dr. Zakir Naik adalah contohnya. Kristolog dunia ini diburu otoritas India ketika terdapat seorang yang mengaku mengaguminya melakukan pembunuhan massal hingga memakan korban 22 jiwa. Akibatnya harus ditanggung oleh kegiatan dakwah Zakir Naik, dimana stasiun televisinya, PeaceTV dilarang mengudara oleh Bangladesh dan Zakir naik sendiri diburu hingga harus menyelamatkan diri ke luar negeri. Padahal beliau memiliki 16 juta follower di FB. Bagaimana mungkin seorang tokoh dituntut bertanggung jawab atas perbuatan penggemarnya, hanya berdasarkan klaim “inspirasi”?




Apakah nantinya, Donald Trump juga akan dituntut bertanggung jawab atas kejahatan si teroris kafir dari Selandia Baru itu? Kita sudah bisa memastikan jawabannya.



Diadilinya Brenton Tarrant ini nantinya tidak serta merta akan menghentikan potensi terorisme terhadap Islam di masa mendatang, karena aksi kebenciannya kepada Islam tidak muncul dengan sendirinya. Dia terdoktrin, dicuci otaknya, oleh penghujatan terhadap Islam oleh kelompok ektrimis sayap kanan seperti UPF, Presiden AS Donald Trump yang kerap memprovokasi untuk menyerang Islam, dan di Selandia Baru sendiri terdapat politisi anti-Islam seperti Fraser Anning dan Pauline Hanson. Di samping gencarnya demonologi oleh media massa.




Baru-baru ini bahkan Fraser Anning, senator di Selandia Baru tersebut, mengeluarkan pernyataan yang menyalahkan Muslim sebagai penyebab munculnya terorisme.

Ada yang Senang Teror Menimpa Muslim

Pengkambinghitaman kepada Muslim ini menunjukkan bahwa selama hoax “terorisme Islam” dibiarkan saja maka akan lahir calon-calon pembunuh massal lainnya. Betapa tidak, di Indonesia saja, secara mengejutkan, tragedi ini disambut gembira oleh pihak tertentu.



Di website Detik.com saat berita tragedi pembantaian yang memakan 40 korban diturunkan, terdapat 12% voter menyatakan senang, 3% terhibur, dan 1% terinspirasi. Artinya 16% ternyata mendukung terorisme tersebut.

Di Facebook bahkan terdapat akun yang terang-terangan ingin mengikuti jejak teroris Selandia Baru.




Misalnya akun bernama “Bimex Liman” menulis, “Klo bisa saat reuni 212 baru kau dtg di monas bro aru kau brondong itu aku dukung broo.”



Akun Vanny Gombo menulis, “Biar sekalian 5000 orang yg meninggal, Indonesia jg sama kok suka mendiskriminasikan Kristen dan agama selain Islam. Habisi Islam, bakar mereka hidup2…”

Sentimen anti-Islam ini berbahaya jika terus-menerus dibiarkan. Negara harus proaktif bergerak lebih cepat daripada reaksi masyarakat yang tak terduga. (GG)


Tarbawia
Bijak Bermedia, Hati Bahagia

Bergabung Untuk Dapatkan Berita/Artikel Terbaru:

Info Donasi/Iklan:

081391871737 (Telegram)



Diberdayakan oleh Blogger.