Rumah konsep pesanstren

Bikin Jomblo Baper, Kisah Ketemu Jodoh Setelah Jadi Saksi Pemilu

- April 12, 2019


Jadi Saksi PKS, Mendekatkan Jodoh mu.. 💖

Pada pemilu 2009, saya kebagian tugas antar ransum konsumsi siang dan sore untuk saksi PKS di daerah Caturtunggal, Jogja. Saya bersama seorang kawan, Aeny Zawa mendapat jatah antar sekitar 7-10 TPS (tempat pemungutan suara), lupa jumlah tepatnya.

Sebelum sesi antar ransum, kami membantu para ibu kader PKS memasak di rumah salah satu caleg PKS. Tepatnya rumah pak Darul Falah. Tahun ini, beliau juga nyaleg lagi untuk anggota DPRD Provinsi Yogyakarta dapil 5. Di sana, saya bantuin sekedarnya sih. Kalau ga mau dibilang cuma bantu bungkus. Maklum, 2009 masih singlelillah dan tidak terampil urusan memasak.

Selain antar ransum, kami juga mendapat amanah menanyakan kebutuhan saksi yang sekiranya bisa kami antarkan di pengiriman ransum kloter dua sore harinya. Misal butuh bolpen tambahan, kertas, pulsa, kipas, kulkas, mesin cuci. Oh, dua terakhir list kebutuhan rumah tangga rupanya.

Sampai di TPS, kami celingukan mencari sosok saksi PKS. Kalau saksinya dikenal, proses pengantaran ransum berlangsung cepat. Say helo, oper ransum, tanya jawab, kelar. Tentu saja tanpa ada sesi foto bersama, tabu waktu itu.

Alih-alih butuh alat tulis, seorang saksi memesan jus alpukat untuk pengantaran ransum sore hari. Ashiaaap! Barangkali dari sinilah go food terinspirasi.

Kalau tidak kenal saksi PKS, kami harus berbisik-bisik pada sesebapak di TPS. Menanyakan dimanakah saksi PKS disimpan. Daripada jadi saksi terlantar, mending disimpan tho. Ada juga yang iseng membantu mencarikan dengan berteriak, 
"Saksi PKS mana? Istrinya antar makan siang." Krik krik krik. 

Ini adalah perjodohan absurd dalam sesi antar ransum. Terang-terangan saya tolak ide mak comblang dalam TPS tersebut.

Nah, salah satu TPS yang saya kunjungi berada di belakang kampus Sanata Dharma. Saya bertemu saksi berperawakan kutilang, kurus tinggi menjulang dengan baju putih bergaris. Mengingatkan saya pada zebra cross. Entah siapa namanya. Mas saksi ini nampak tidak suka saya bertanya ini itu soal kebutuhan lainnya. Padahal saya mah cuma menjalankan tugas sesuai SOP (standar operasional prosedur). Doi dingin menanggapi perhatian saya yang tulus sebagai tukang ransum. Sudah jadi rahasia umum, pemuda PKS jaman segitu masih banyak yang kalau ngobrol liatnya ke bawah. Ghadul bashar kalau ga mau hafalan yang cuma 3 kulhu menguap.

***

Nyatanya, urusan antar ransum tidak berakhir di Pemilu. Dua tahun kemudian, proposal nikah mas saksi sampai di tangan saya lewat perantara guru ngaji. Kami belum saling kenal. Lupa pernah ketemu di TPS atau mungkin di kegiatan PKS lainnya. Proposal nikahnya dijilid rapi macam makalah tugas kuliah. Kata mentor ngaji saya, ini biodata lelaki paling rapi yang beliau terima. Namanya juga usaha ya Mas?

Di tahun-tahun pernikahan selanjutnya, meski bukan Pemilu, saya rutin menghadirkan makanan untuknya. Mas saksi ini tidak kuasa menolak perhatian ransum dari saya. Sebab, ada cinta di setiap hidangan. Buktinya berat badannya bertambah 15 kilo. Konon, kemakmuran yang haqiqi dimulai dari urusan perut. Begitulah cinta kami berkembang.

***

Tujuh hari lagi kerjaan saya masih sama. Seputar pengantaran konsumsi saksi dan tim hore. Pilihan partai saya juga tetap sama, PKS nomor 8. Bedanya, mas saksi tahun ini tidak lagi jadi saksi PKS, melainkan jadi saksi cinta saya.

Uhui!
....

Tulisan oleh @Yosi Prastiwi
Foto oleh @Wicak Yuuhuu
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search