UAS Difitnah dan Kekuatan Hasbunallah Wa Ni'mal Wakil

- April 14, 2019



UAS DIFITNAH & KEKUATAN HASBUNALLAH WA NI’MAL WAKIL

Oleh: Ust. Dr. Miftah el-Banjary, MA

Kemunculan UAS (Ustadz Abdul Somad) dalam acara dialog eksklusif bersama Bapak Prabowo secara Live di TV One, petang Kamis (12/04/19) yang lalu mengejutkan banyak pihak. 

Meskipun kehadiran UAS dalam kapasitasnya sebagai seorang ustadz, serta tidak ada statement dukungan secara dekleratif, namun pesan semiotika politiknya mampu ditangkap dan dipahami semua orang kemana dukungan itu berlabuh. Tentu saja, hal itu sedikit banyaknya akan mampu mempengaruhi masa pendukung.

Nampaknya UAS sedari awal sudah menyadari resiko pilihannya, sehingga di sela-sela dialog UAS mengatakan, “Apa yang terjadi pada saya, kuserahkan semua pada Engkau ya Allah, yang penting sudahku sampaikan,” dikutip Viva, 14 April 2019.

Benar saja, skenario fitnahan terhadap da'i lulusan al-Azhar itu mulai gencar diarahkan, mulai dari rumor tuduhan pelanggan kode etik ASN, hingga serangan terhadap pribadi dan keluarga UAS secara tiba-tiba, brutal secara serampangan dengan fitnah wanita-wanita di sekitar UAS yang sama sekali tidak benar adanya. 

UAS rupanya dianggap target yang patut diperhitungkan oleh lawan yang merasa terancam dan panik. Tapi cara-cara seperti itu sungguh menistakan dan tidak ilegan dalam dunia demokratis seperti saat ini.

Saya tidak ingin berpanjang lebar membahas soal tudingan dan fitnah itu, apalagi ingin menelisik dan menduga-duga siapa pelakunya, sebab jawaban terhadap persoalan UAS itu sesungguhnya telah dijawab sendiri oleh kata-kata bijak beliau terhadap bapak Prabowo pada dialog itu sendiri. 

UAS menasehatkan, “Pohon durian, jika masih berputik, tidak ada orang yang tertarik mengambilnya, tapi bila sudah berbuah, harum baunya, maka pada saat itulah, orang-orang mulai melemparinya dan berusaha memanjatnya.”

Oleh karena itulah, saya tidak merasa khawatir apa-apa pun yang menimpa terhadap UAS, sebab beliau telah menyerahkan segalanya bertawakkal pada Allah. 

Saya yakin Allah akan menjaga dan menyelematkan beliau. Namun demikian, saya tetap menulis pembelaan terhadap para ulama, seperti UAS, paling tidak didadasari dan didorong oleh banyak hal;

Pertama: Memiliki Kesamaan Perjuangan. Kedua : Kesamaan Pendidikan dan Latar 
Ketiga: Saya Meyakini UAS Tulus dan Ikhlas Berdakwah. 

Saya mengamati UAS berbeda dengan kebanyakan para ustadz atau kyai lainnya yang silau dengan glamor populritas dan pengikut, UAS tidak istiqamah tidak tergiur tawaran Cawapres, bahkan tak ingin diundang masuk istana.

Oleh karena itulah, ketika UAS diserang dan difitnah dengan berbagai tuduhan keji, saya merasa terpanggil dan berkewajiban membela, meski lewat doa dan tulisan agar beliau senantiasa dilindungi oleh Allah dalam dakwah, pribadi dan serta keluarganya. 

Sebab tanpa rasa kepeduliaan itu, rasanya tidak patut lah saya mengakui sebagai pribadi yang beriman, ketika sesama ulama dihinakan, kita tinggal diam, tanpa reaksi dan respon sedikit pun.

Di Mesir kami dibentuk bukan sekedar intelektual saja, tapi kami dibentuk secara mental. Tampaknya Mesir sudah dipersiapkan sebagai negeri penghasil para ulama, sehingga kehidupan pergaulan masyarakat Arab Mesir yang keras membentuk mental yang tidak mudah rapuh menghadapi tantangan.

Kami dibentuk oleh cuaca yang tidak bersahabat, jika musim dingin sangat dingin, jika panas sangat lah. Jika bertemu orang baik sangatlah baik, jika bertemu dengan orang jahat, masya Allah menjengkelkan sekali! 

Pada saat menggunakan tranportasi umum, kami terbiasa tidak menggunakan safety, naik dan turun bus dengan cara melompat ala aktor adegan action sudah terbiasa. 

Satu-satunya, penjamin keselamatan kami adalah sebuah ungkapan yang seringkali dijadikan ungkapan khas dan doa orang-orang Mesir di sana adalah, “Tawakkal ‘alallah. Hasbunallah wa ni’mal wakil! Bertawakkallah pada Allah! Cukup lah Allah bagi kami sebaik-baiknya tempat berserah diri!”

Dalam kondisi dan keadaan apa pun, kalimat-kalimat itu telah menjadi darah daging dalam menghadapi dan menyelesaikan berbagai masalah, sebesar apa pun. Cukuplah Allah tempat berserah diri! Jangan berserah diri selain kepada Allah! Sebab para nabi dan rasul Ulul Azmi pun mengucapkan doa yang sama. Hasbunallah wa ni’mal wakil. 

Apa pesan yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini bahwa sebesar apapun terpaan fitnahan dan kejahatan yang akan mereka lakukan terhadap UAS dan keluarga beliau, saya yakin insya Allah akan menjaganya. Insya Allah, Allah yang akan membolak-balikkan tangan-tangan jahat itu, lalu mengembalikan kejahatan itu pada para pelakunya, bahkan siapa saja yang berperan utama dibalik fitnahan itu. 

Akhirnya, saya hanya berdoa dan mengajak semua rekan-rekan pencinta UAS untuk mendoakan tuan guru kita, ustadz kita, kanda kita, ulama kita senantiasa mendapatkan perlindungan dari Allah segala makar dan tipu daya yang akan mencelakai beliau dan keluarga. Hasbunulllah wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashir.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search