Akibat Bicara Agama Tanpa Ilmu dan Sanad Keilmuan

- September 06, 2019


AKIBAT BICARA ILMU AGAMA, TANPA ILMU DAN SANAD KEILMUAN.

Oleh: KH. DR. Miftah el-Banjary, MA

Sudah terlalu banyak tampaknya di negeri ini fenomena bermunculan orang-orang yang terlihat paham agama, orang-orang yang berpenampilan menyerupai ulama, artis-artis hijrah yang mendadak jadi ustadz-ustadzah, lalu muncul di TV mengisi program-program religi.

Sayangnya, kadang dari segi pondasi keilmuan agama mereka belum mumpuni, mereka belum mengerti manhaj keilmuan ilmu-ilmu syariat, serta manhaj ushuliyyah dalam agama ini untuk menjadi pembimbing bagi umat.

Tak ayal seringkali apa yang mereka sampaikan bertolak belakang dari keilmuan yang seharusnya, kesimpulannya, ngawur, ngaco dan pastinya sangat membahayakan!

Masih ingat ada ustadz TV yang mengatakan, "Di Surga nanti ada pesta seks". Ada juga, ustadzah yang layak tampil karena kacau menuliskan ayat al-Qur'an, belum lagi mampu membedakan mana huruf Sin dan Syin. Paraah beneeer!!

Dalam banyak tulisan-tulisan yang kemudian viral, kritikan saya terhadap kasus ustadz-ustadzah "abal-abaliyyah" di TV Nasional bukan sekali dua kali, hingga yang bersangkutan meminta maaf. Tulisannya masih bisa dibrowsing.

Mirisnya, kadang saja fenomena orang-orang yang baru hijrah, punya semangat yang tinggi terhadap agama, tiba-tiba merubah penampilannya secara total, busana sunnah Islami katanya. Namun, sayangnya otak mereka belum lagi di-update oleh dasar dan metodologi keilmuan yang telah distandarkan oleh para ulama shalafusshalihin. 

Rasa percaya diri yang tinggi, orang-orang yang tampil berfatwa tentang agama, meski tanpa didasarkan pada metodologi keilmiahan manhaj kitab-kitab turats (klasik) kadang hanya didasarkan pada pengetahuan yang diperoleh dari kitab-kitab terjemahan, artikel di internet, kajian di youtube, bahkan cuma meme yang bertebaran di media-media sosial tho, tanpa pernah duduk talaqqi dihadapan seorang pakarnya dan kitab referensi aslinya.

Motivasi hadits yang berbunyi: "Ballighu 'anni wallau ayat. Sampaikan dariku, meskipun satu ayat!" seringkali dijadikan pembenaran sebagian orang tampil sebagai guru agama, meski baru belajar agama, baru insyaf, kemudian dipercaya sebagai pembimbing agama. Miris bukan?!!

Konteks hadits tersebut di atas disampaikan oleh Rasulullah dalam konteks masa awal "talqin hadits" (hadits yang belum dikodifikasikan dalam bentuk buku) pada masa awal Islam. Namun, seiring perkembangan waktu, hadits tersebut tidak terhenti sampai di sana, masih ada peringatan kehatian-kehatian berfatwa dalam persoalan agama tanpa dasar keilmuan yang mapan. 

Pengetahuan keagamaan, tentu harus didasarkan pada manhaj keilmuan yang telah disepakati dan dirumuskan oleh para ulama, sehingga ada garis sanad yang saling bersambung dan terkonsep dengan sistematis, tepat dan benar tentunya.

Misalnya, dalam keilmuan Ushul Fiqh, kita harus mengenal para peletak keilmuan dasarnya. Seperti pada masa abad ke- 1 hingga ke-3 Hijriyyah, ada Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafie hingga Imam Ahmad bin Hanbal yang mensistematikan hadits menjadi ilmu disiplin ilmu Ushul Fiqh generasi pertama.

Masih pada abad ke-3 selanjutnya, berlanjut generasi tabiut tabien, seperti: Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam At-Turmudzi, Imam Nasa'i, Ibnu Majah, Imam Baihaqi dalam mensistematikan ilmu hadits 

Kita pun harus mengenal sejumlah tokoh, semisal: Abu Hasan al-Bashri, Ibrahim bin Adham, Abu Yazid al-Bushtami, Sari as-Saqithi, Fudhail bin Iyadh, Ma'ruf al-Karkhi, Harits al-Muhasibi, Imam al-Ghazali yang mensistematiskan ilmu tasawuf.

Belum lagi, keilmuan di bidang Fiqh Syafi'eyyah, semisal Imam Muzanni, Imam al-Buwaithi, Imam Rafi'e, Imam Nawawi, Imam Syihabuddin ar-Ramli, Zakarya al-Anshari, Khatib Syarbaini, Syihabuddin al-Qalyubi, Ibnu Hajar al-Haitami,  Sulaiman al-Bujairimy, Syekh Ibrahim al-Baijury, dll.

Bidang tafsir al-Qur'an, semisal: Imam at-Thabari, Imam al-Qurthubi, Imam Ibnu Katsir, Imam Fakhrurazi, Imam al-Alusi, Imam Baidhawi, Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Imam al-Khazin, Imam Maraghi dan masih banyak lagi.

Bidang akidah tauhid, ada Imam Abu Hasan al-Asy'ari, Abu Mansur al-Maturidy, Imam as-Sanusi, dan Imam Thahawi. Bidang Nahwu, semisal: Sibawaihi, Imam al-Fara', Imam Ibnu Khalil, Ibnu Jinni, Imam al-Jahidz, Kisa'i, dll.

Semua keilmuan kita haruslah berdasarkan pada rentetan keilmuan yang mu'tabarah ahlus sunnah dan bersambung pada pengarangnya, bahkan hingga Rasulullah. Memang sanad, bukan dalam artian harus mengetahui semua jalur nasabnya, tapi sudah cukup mampu mengenali corak dan mazhab keilmuannya.

Mengutip pendapat perkataan Abdullah Ibnu Mubarak: "Sanad bagian dari agama. Sekiranya tanpa sanad keilmuan, niscaya setiap orang berbicara tentang agama sekehandaknya."

Jika agama dipahami sekehandaknya saja, sesuai dengan tafsirannya masing-masing, maka tunggulah kekacauan dalam agama ini!

Terakhir, mengutip hadits Nabi yang diriwayatkan Imam An-Nasai dan At-Thabrani:

مَنْ قَالَ فِي القُرآنِ بِرأيِهِ ، فَلْيَتَبوأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ 

"Barang siapa yang berpendapat tentang Al-Qur'an dengan pendapat pribadi (nafsunya), maka bersiap-siaplah dia menyiapkan tempatnya di dalam api neraka." 

Wallahu 'alam.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search