Andai Orang Sedunia Seperti Habibie

- September 13, 2019


Cerita tentang persahabatan Habibie dan Romo Mangun, sesama mahasiswa di Jerman.

***

Rudy cukup penasaran kenapa laki-laki itu bisa berkhotbah di depan, padahal dia anak baru. Bagaimana bisa orang Indonesia disuruh memimpin ibadah untuk umat di Jerman?

Romo Mangun tersenyum saja melihat Rudy shalat di pojok belakang gereja. Biasanya Rudy menunggu sepi untuk shalat di gereja. Namun, karena hatinya sangat kacau pada saat itu, dia masuk saja walau sedang ada misa. Selesai ibadah, Romo Mangun menemui Rudy di belakang gereja.

"Lho, Mas Romo. Kok, kamu tadi di depan dan sekarang di sini?"

Romo Mangun hanya tertawa. "Ada juga saya yang bertanya, Rud. Mengapa kamu shalat di sini?"

"Sebelum Mas Romo ke sini, saya juga sudah sering shalat di sini. Aku menumpang saja, Mas. Aku butuh kedamaian Allah. Di sini, kan, tak ada masjid," jelas Rudy.

"Rudy ... Rudy ... Seandainya satu dunia ini sepertimu," Romo Mangun tersenyum.

"Seperti saya? Tukang ngotot maksudnya?"

"Bukan, tetapi orang yang selalu yakin kalau Tuhan adalah yang Maha Pengasih. Apa yang dibuatNya, segala cobaanNya, segala perbedaan di bumi, adalah bentuk cintaNya," jawab Romo Mangun. "Senang sekali melihat kamu nyaman berdoa di gereja dengan caramu sendiri. Ini justru bukti keimananmu tak mudah goyah, Rud."

Rudy terdiam. Dia menatap Romo sambil tersenyum, "Ah, Mas Romo ini bijak sekali, seperti pastor saja."

"Lho, selama ini kamu memanggil saya Romo, kan? Kok kaget kalau saya pastor?"

"Nama Mas itu 'Rama' kan? Romo?"

"Bukan! Saya ini 'romo' alias 'pastor'! Nama saya Y.B. Mangunwijaya. Romo itu panggilan untuk pastor dalam bahasa Jawa." Romo Mangun tertawa.

"Oooh, saya pikir 'Romo' itu panggilan 'Rama' dalam bahasa Jawa!"
... ... ...

("Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner", Gina S. Noer, Halaman 218-219)
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search