Habibie, Gus Dur, dan Kelompok Modernis

- September 16, 2019


Habibie, Gus Dur, dan Kelompok Modernis

Tulisan Hamid Basyaib di Majalah Tempo edisi pekan ini “Serendipity BJ Habibie” mengungkap bagaimana ejekan dan hinaan terhadap karya agung Bapak Teknologi Indonesia tersebut. Ejekan dilakukan dengan memplesetkan nama dan tipe pesawat kebanggaan rakyat tersebut.

Misalnya Tetuko (nama kecil Gatotkaca) yang digunakan sebagai nama salah satu jenis pesawat produk Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) tersebut. Para pengejek Habibie memplesetkan kepanjangan Tetuko menjadi sing tuku ora teko-teko, sing teko ora tuku-tuku (yang mau beli pesawat tak kunjung datang, sedangkan yang datang tak kunjung membeli). Sementara CN (-235) tipe produk pertama dibuat kepanjangannya “Capek Nunggu” karena dinilai tidak pernah beres rapi dan rapi jadwal terbangnya. 

Penolak utama gagasan-gagasan besar Habibie yang menjadikan pengembangan terknologi sebagai kunci kemajuan Indonesia datang dari kelompok arsitek ekonomi Orde Baru, Widjojo Nitisastro Cs. 

Yang menarik, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur juga turut meremehkan lewat sebuah cerpennya. Di sebuah arena perang, katanya, setiap pesawat yang melintas harus ditembak jatuh. Tapi, ketika CN-235 muncul, komandan bilang itu tidak perlu ditembak. Kenapa? “Nanti juga jatuh sendiri,” jawab komandan. 

Cerpen Gus Dur tersebut terdapat dalam buku “Ger-Geran Bersama Gus Dur: Edisi Spesial Mengenang Gus Dur” yang disunting Hamid Basyaib dan Fajar W. Hermawan dengan judul “CN-235 dan Jenderal NATO.”

Sikap Gus Dur dan seakan seirama dengan para ekonom yang kerap disebut mafia Berkeley dalam menyikapi gagasan dan karya Habibie tersebut tidak mengejutkan. 

Dalam fase Pemerintahan Orde Baru, akhir tahun 1980-an sampai awal tahun 1990-an merupakan masa peralihan sikap dan kebijakan Presiden Soeharto dari antagonistik ke akomodatif kepada umat Islam. Pada era tersebut, berbagai kebijakan dan keputusan politiknya memperlihatkan keberpihakan kepada umat. Puncaknya adalah restunya atas pendirian Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), yang diketuai oleh BJ Habibie.

Namun berbeda dengan kecenderungan tersebut, Gus Dur yang sebelumnya dekat dengan Pemerintah Orde Baru mengubah haluan politiknya menjadi penentang Orde Baru dan paling depan mengkritik ICMI. Untuk mengimbangi ICMI yang dituduhnya sektarian, Gus Dur membentuk Forum Demokrasi (Fordem). Anggota Fordem lebih banyak beragama Protestan dan Katolik.

Sikap Gus Dur terhadap ICMI sejalan dengan para jenderal anti Islam seperti LB Moerdani, yang juga tidak senang dengan ICMI. Gus Dur memang dekat dengan LB Moerdani. Seiring dengan perubahan sikap Soeharto tersebut, kelompok LB Moerdani juga terpental dari lingkaran Soeharto. Para jenderal santri pun mulai menduduki posisi strategis di jabatan-jabatan ABRI.

Menariknya, tuduhan lain bahwa ICMI hanya akan jadi alat politik untuk mendukung pemerintahannya atau mengkooptasi para anggotanya, tidak sepenuhnya benar. Amien Rais yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar ICMI tetap menunjukkan kekritisannya terhadap Soeharto. Meski memang dengan sikapnya tersebut, Amien terpental dari jabatan tersebut. Namun, Ketua Umum PP Muhammadiyah tetap kritis bahkan punya andil besar dalam menumbangkan rezim Pemerintahan Orde Baru.

Sementara Gus Dur sebaliknya, kembali dekat dengan rezim Orde Baru dan memberikan dukungan kepada Golkar dalam Pemilihan Umum 1997. Bahkan Gus Dur tidak sepakat dengan tuntutan agar Soeharto mundur ketika terjadi demonstrasi besar-besaran. Gus Dur meminta mahasiswa berhenti berdemo dan memberikan kesempatan kepada Soeharto untuk menjalankan amanat reformasi.

Mengenai perobahan sikap Gus Dur tersebut, Kevin O’Rourke seperti dikutip Yudi Latif (2013), menjelaskan satu-satunya penjelasan bagi dukungannya yang terus berlanjut kepada Soeharto ialah karena musuh besarnya, Amien Rais, tengah memimpin gerakan anti-Soeharto. Bahkan di tengah-tengah drama nasional ini, tampak bagi banyak orang bahwa Gus Dur lebih mementingkan bagaimana mengalahkan rival modernisnya ketimbang melengserkan Soeharto.

Zulhidayat Siregar
Gunung Sindur, 16 September 2019
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search