Satu Pengusaha, Satu Masjid

- November 28, 2019


SATU PENGUSAHA, SATU MASJID
Oleh : Rendy Saputra

Masjid memiliki potensi yang luar biasa. Lebih dari sekedar bangunan, masjid sebenarnya bisa berfungsi maksimal melayani ummat, jika pengelolaannya benar.

Di tengah besarnya potensi masjid untuk melayani permasalahan ummat, kebanyakan masjid terkendala dengan masalah non teknis yang merepotkan: otoritas pengelolaan yang tidak jelas.

Otoritas takmir yang tidak jelas, DKM yang tidak kooperatif dengan masukan, warga yang merasa bahwa masjid harus kolektif kolegial, yang pada akhirnya banyak menghambat program-program positif yang harusnya terlaksana.

Mengapa hal itu terjadi? Karena masjid yang dibangun adalah hasil jerih payah bersama. Hampir 90% lebih masjid di Indonesia adalah dibangun dengan swadaya masyarakat secara bersama-sama.

Hal ini memiliki konsekuensi bahwa masjid harus dijalankan dalam kebersamaan yang kolegial. Walaupun ini positif, namun sebenarnya hal ini juga tantangan pada pengelolaan. Ruwet.

Setiap ide harus memperhatikan gagasan banyak pihak.

Setiap program harus terkonfirmasi oleh banyak unsur.

Setiap diskusi harus melibatkan masyarakat dalam jumlah yang luas.

Maka tidak sedikit masjid yang terjebak dalam banyak rapat namun tidak pernah melahirkan program. Adapun malah sibuk berdiskusi, sibuk berdebat, sementara ummat kelaparan, jamaah tidak pernah merasakan adanya manfaat.

*****

Sebuah tren baru mulai menyemarak: Masjid Keluarga. Masjid yang dibangun oleh Keluarga Muwakif tunggal. Biasanya dibangun oleh para pengusaha yang ingin memberikan kontribusi pada ummat.

Masjid Keluarga ini biasanya hasil dari wakaf 100% keluarga. Tanahnya, bangunannya, bahkan tak jarang operasionalnya pun diback up 100% oleh keluarga.

Maka asset fisiknya secara akad wakaf sudah milik ummat. Itu clear. Tetapi nazir atau pengelola adalah pihak keluarga muwakif. Biasanya Keluarga Muwakif membangun yayasan keluarga untuk mengelola masjidnya.

Menurut hemat Saya, sebagai pemerhati dunia dakwah masjid di Indonesia, hal ini sangat efektif.

- Pihak keluarga bisa membangun visi masjidnya tanpa banyak gangguan.

- Pihak keluarga berhak mengangkat pengelola masjid, mengevaluasi, bahkan menggantinya jika dirasa tidak perform.

- Pihak keluarga leluasa membangun program, membangun ide dan eksekusi, tanpa harus konfirmasi sana sini.

Mengapa bisa demikian? Karena seluruh sumber daya yang dibutuhkan disediakan oleh pihak keluarga secara bertanggung jawab.

Ada narasi kecil bahwa ketika masjidnya dikelola oleh pihak keluarga, masjidnya akan sepi dan tidak bisa melibatkan masyarakat.

Narasi tersebut sungguh tidak benar, Masjid Suciati Saliman dan Masjid An Namira Lamongan misalnya, keduanya tetap berhasil membangun simbiosis yang baik dengan jamaah masjid secara terbuka.

*****

Dari pemikiran tersebut, maka narasinya tidak lagi 1 masjid 1 pengusaha. Dahulu narasinya demikian. 1 masjid alangkah baiknya di back up oleh 1 pengusaha. Hal ini boleh-boleh saja, namun daya terjangnya terkadang terbatas.

Kali ini kita harus mendorong lahirnya satu pengusaha, satu masjid. Mengapa?

1. Kejelasan Otoritas Institusi Masjid

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, masjid yang dibangun oleh single entity akan lebih leluasa untuk melangkah. Tidak perlu banyak mengkonfirmasi ke banyak pihak, karena konsepnya adalah masjid yang diurusi secara mandiri.

Tanahnya wakaf keluarga.
Bangunannya wakaf keluarga.
Operasionalnya bahkan diback up yayasan keluarga. Maka wajar keluarga yang menjalankan pelayanan secara independen.

Butuh tenaga tinggal rekrut. Masyarakat yang ingin terlibat dibukakan ruang. Ingin punya program yang variatif ya tinggal dibiayai.

Maka keputusan program cukup melibatkan majelis syuro yang dibangun oleh keluarga muwakif.

Indepden. Mandiri. Otoritatif.

2. Organ Entitas Resmi Filantropi Keluarga.

Saya berdialog dengan salah seorang pengusaha. Setelah kami berdiskusi tentang zakat maal, barulah beliau sadar bahwa zakat yang seharusnya wajib beliau bayarkan jumlahnya miliyaran rupiah.

Nilai cash, piutang dan stok barangnya mencapai kurang lebih 30 miliar. Berarti dalam haul 1 tahun, zakatnya 750 juta. Itupun beberapa tahun ke belakang, beliau mengaku belum tertunaikan zakatnya. Maka jumlah hutang zakat terhitung sekitaran 2-3 miliar sejak bisnis dimulai.

Beliau menuturkan: "Siap aja menunaikan hutang zakat, tapi pengennya nyalurin sendiri ke asnaf zakat, gak mau dititipkan ke pihak lain."

Jika pengusaha tersebut memiliki masjid, lalu masjidnya memiliki Baitul Maal yang terdaftar sebagai unit pengelolaan zakat ke Baznas, maka hal itu sangat mungkin dilakukan.

Pada pengelolaan angka zakat yang teramat besar, masjid keluarga pengusaha berpotensi untuk menyalurkan secara adil dan tepat. Ini yang jarang disadari oleh banyak pengusaha. Dampak sosialnya pun akan sangat tinggi.

Selain itu, tidak semua generasi kedua atau ketiga bisnis selalu cenderung untuk berbisnis. Bisa jadi ada anak atau cucu yang tertarik pada dunia filantropi. Inilah wahana bagi keluarga pengusaha, untuk menyalurkan energi aktivitas kemanusiaan melalui masjid yang ada.

3. Platform Komunikasi Resmi antar Pengusaha Muslim.

Hari ini para pengusaha muslim yang dikaruniai Allah kesempatan membangun masjid telah sering membangun komunikasi. Ini adalah sebuah kekuatan baik yang harus dikelola.

Dan ini kesempatan bagi Anda para pengusaha untuk memulai melangkah membangun masjid. Masjid yang fungsional dan bermanfaat. InsyaAllah.

*****

Ahad 1 Desember nanti, Tokoh Hulu Pergerakan Masjid Indonesia, Kiyai Jazir Jogokariyan akan hadir di Bandung. InsyaAllah sebuah event inspirasi masjid akan dihelat.

Akan hadir Ibu Suciati Saliman yang sudah dikenal oleh khalayak dengan Masjid Suciati Saliman-nya. Sebuah masjid yang meneledankan pengelolaan mandiri, seksama, penuh perhatian, dan terus melayani jamaah hingga hari ini.

Ini adalah kesempatan bagi bapak ibu Pengusaha semuanya untuk belajar dari Ibu Suciati Saliman. Belajar kesabaran, belajar kedisiplinan, belajar setia dengan mimpi, dalam rentang puluhan tahun, memulai dari 5 potong ayam, hingga Allah karuniakan rahmah menjadi wasilah hadirnya Masjid Suciati Saliman Sleman DIY.

Hadir pula Haji Helmy, dengan Masjid An Namira Lamongan yang sudah tidak diragukan lagi. Saat Ramadhan masjidnya menyediakan makan buka puasa dan sahur untuk ribuan jamaah. Dengan imam Masjid hufadz bersanad. Dengan ribuan jamaah dan ratusan bus yang terus menerus hadir hilir mudik.

Saatnya belajar dari para pelaku. Semoga bermanfaat. Silakan langsung hubungi panitia ya.

Sudah saatnya setiap pengusaha belajar memiliki visi untuk membangun masjid. Masjid yang efektif, bermanfaat, melayani ummat.

Trans Luxury Hotel
Ahad, 1 Desember 2019
Pukul 08.00 sd 17.00
WA 085228147281
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search