Perusahaan Ojol, Jangan Tinggalkan Drivermu Menanggung Beban Sendirian

- Maret 25, 2020


Perusahaan Ojol, Jangan Tinggalkan Drivermu Menanggung Beban Sendirian

Oleh: Nadeem

Ini mengenai acara ILC semalem, yang juga mendatangkan Bapak Ginanjar, seorang ojek online (ojol), yang mengeluhkan pendapatannya hariannya sebagai pekerja dengan pendapatan harian akhir-akhir ini akibat kebijakan sosial distancing atau physical distancing yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Saya yakin, keluhan yang disampaikan oleh Bapak Ginanjar juga merupakan keluhan bagi hampir semua driver ojol di Indonesia, terutama yang di Jakarta.

Kenapa para penelis yang hadir, termasuk Pak Fajroel Rahman sebagai Juru Bicara Istana, dan Bang Haris Azhar sebagai aktivis pemerhati permasalahan kaum urban, bahkan sang moderator sendiri, Bang Karni Ilyas juga sama sekali tidak menyinggung perushaan ojol atau tidak mengarahkan tanggung jawab para driver ojol tersebut kepada perusahaan ojek online tempat para driver ojol tersebut 'bernaung', atau bekerja sama menjalankan bisnis jika tidak ingin disebut 'bernaung', seperti Gojek dan Grab?

Harusnya, permasalahan tidak adanya pendapatan harian, atau tidak terpenuhinya pendapatan harian para driver ojol tersebut juga menjadi bagian dari perusahaan-perusahaan ojol yang menjadikan para driver ojol tersebut sebagai partner bisnisnya. Jangan hanya pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang ditekan. Sementara perusahaan ojol bisa 'lepas tangan'.

Harusnya ada social responsibility dari  perusahaan-perusahaan ojol tempat para driver ojol tersebut bekerja sama menjalankan bisnis (jika tidak ingin disebut 'bernaung'). 

Jika perusahaan ojol beralasan bahwa para driver ini hanyalah partner saja, bukan karyawan atau bagian dari perusahaan ojek online tempat mereka, hey.. dengan 'mengangkat' atau menjadikan para driver tersebut sebagai 'partner' perusahaan, apalagi ketika para driver ini bekerja, diwajibkan mengenakan atribut baik jaket, helm, dll (bukan cuma sekedar aplikasinya saja) dari perusahaan ojol yang menjadikan para driver tersebut 'partnership', maka secara tidak langsung ada legacy yang diemban oleh keduanya, baik perusahaan ojol maupun driver ojol. Dan, ada legalitas kerjasama 'partnership' dalam menjalankan bisnis ojek online tersebut.

Jangan cuman ancaman suspend aja driver ojol harus ikut ke perusahaan ojol. Sementara, ancaman nggak ada pemasukan sehingga tidak bisa menafkahi keluarganya, karena ada situasi dan kondisi yang extra ordinary, seperti terbitnya kebijakan darurat nasional oleh pemerintah pusat maupun daerah untuk physical distancing dan stay at home, juga harusnya dipikirkan oleh perusahaan ojol tersebut.

Tanpa diminta oleh para driver ojol, pun mestinya Gojek atau Grab segera tergerak membantu meringankan beban para drivernya.

Okelah, jika perusahaan ojol masih beralasan bahwa para driver ini cuma partner, dan bukan karyawan atau bagian dari perusahaan ojol tersebut. Lah, kan saya bilang; social responsibilty, bukan business responsibility.

Biar bagaimanapun, selama ini kan dengan menggandeng para driver ojol, para perusahaan ojol ini bisa menjalankan bisnisnya secara luar biasa dan menangguk keuntungan yang besar. Bisa mendapatkan investasi triliunan dari investor. Artinya, ada andil atau kontribusi yang besar pula dari para driver ojol tersebut dalam membesarkan perusahaan dan mengembangkan bisnisnya.

Jadi, wahai perusahaan ojol, jangan tinggalkan sendirian dong para drivermu menanggung beban tak dapat order dan tak ada pemasukan untuk kebutuhan mereka sendirian.

*Penulis adalah mantan marbot masjid yang sekali-dua kali naik ojol, namun setiap hari berinteraksi dengan ojol di masjid termasuk mendengar curhat mereka.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search