Heboh #KotakSuaraKardus, Mantan Komisioner KPU Ungkap 8 Fakta Mencengangkan

- Desember 19, 2018



Mantan Komisioner KPU RI, Profesor Chusnul Mariyah menjadi salah satu bintang pada diskusi pekanan #ILCKotakSuaraKardus, Selasa (18/12/18) malam.

Guru Besar ilmu politik ini juga mengungkap 8 fakta mencengangkan seputar pemilu dan adanya lobi-lobi politik dalam KPU.




Manipulasi Pemilu


Profesor Chusnul menyampaikan hal-hal yang menjadi jalan masuknya manipulasi dalam pemilu, termasuk pemilu 2019 yang akan datang.

"Manipulasi bisa dimulai dari peraturan perundang-undangan, DPT digelembungkan atau diciutkan, rekruitmen KPU-sampai hari ini masih ada KPU yang belum jadi di Jatim provinsi dan kabupaten belum jadi padahal pemilu tinggal 4 bulan lagi." kata Chusnul memulai pemaparannya.

Sikap Jahat Peserta Pemilu


Chusnul menambahkan adanya upaya sistematis untuk melemahkan KPU sebagai penyelenggara pemilu. Bahkan para peserta pemilu memiliki kecenderungan tidak baik.

"Peserta pemilu tidak senang kalau KPU kuat karena tidak bisa diajak kongkalikong." lanjutnya menerangkan.




Manipulasi Anggaran


Chusnul masuk ke dalam teknis terkait kotak suara kardus. Menurutnya, pihak KPU harus melakukan verifikasi detil hingga ke soal harga dan perusahaan pemenang tender.

Pasalnya, banyak pihak yang memiliki kepentingan dan kemudian melakukan manipulasi harga.

"Cuma buka di internet ataukah ada ahlinya yang menentukan harga kardusnya berapa? Bisa saja ini dinaikkan terlebih dahulu misal 110 ribu lalu diterima hanya 60 ribu." ungkap Chusnul blak-blakan.

Saat masih menjadi anggota KPU, Chusnul mengaku berkeliling ke semua perusahaan pembuat kotak suara dan kertas suara untuk melakukan verifikasi terkait kinerja, harga bahan pokok, dan semua hal terkait itu.

Temuan DPT Bermasalah


Chusnul menambahkan adanya DPT bermasalah di Kota Depok dan Banten. "Di Kota Depok ada 177 ribuan orang pemilih yang belum jelas orangnya." tegasnya,




Diancam Peluru dan Bom


Saat menjabat KPU, Chusnul dan anggota lainnya mengalami teror. Tak tanggung-tanggung, Ketua dan Anggota KPU saat itu mendapatkan kiriman bom dan peluru.

"Dulu kita dikirimi bom, dikirim 11 peluru, 2 peluru untuk ketua KPU. Biasa saja, kalau belum waktunya mati gak akan mati." ucapnya menyindir.

Kotak Suara Kardus Berayap


Pada kotak suara kardus, Chusnul menemukan adanya wrapping berwarna hitam. Dan saat dilakukan pengecekan ternyata terdapat rayap di dalamnya.

"Cek di Depok. Cek di Banten. Dan setelah dicek, di sana sudah ada rayap. Ini jangan-jangan KPU kerjasama dengan rayap dan dengan jin-jin yang ada." tegasnya disambut tawa penonton di studio.




Hanya Layani Peserta Pemilu


Chusnul mengingatkan agar KPU juga memperhatikan masyarakat sebagaimana diamanahkan oleh undang-undang. Sejauh ini, menurut Chusnul, KPU hanya memperhatikan peserta pemilu.

"Kredonya melayani rakyat. Sekarang yang dilayani kok peserta pemilu-parpol-saja? Rakyatnya bagaimana? 190 jutaan pemilih dikali 5." ungkapnya.

Demokrasi Dibajak 3 Oligarki


Terakhir, Chusnul mengaku prihatin dengan fenomena yang terjadi akhir-akhir ini. Menurutnya, demokrasi Indonesia dibajak oleh 3 jenis oligarki.

"Yang saya takutkan untuk rakyat banyak, demokrasi kita sudah dibajak oleh oligarki politik, oligarki ekonomi, oligarki sosial." tutupnya. [Tarbawia]

Tarbawia
Bijak Bermedia, Hati Bahagia

Bergabung Untuk Dapatkan Berita/Artikel Terbaru:


Info Donasi/Iklan:

085691479667 (WA)
081391871737 (Telegram)



Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search