Rumah konsep pesanstren

Pamekasan Gempita, Kematian Banteng Kian Dekat

- Februari 26, 2019

Kematian itu haq. Tak satu pun makhluk dihidupkan, kecuali dia akan mati. Tak tahu kapan dan bagaimana, tapi pasti mati. Tak bisa mengelak. Tak bisa maju atau mundur. Mati. Pasti.




Begitu pula Banteng. Pasti mati. Sesombong apa pun, sepongah apa pun. Sebanyak apa pun kadernya korupsi, pasti mati.

Dan sambutan gegap gempita untuk Sang Jenderal di Pamekasan, Selasa (26/2/19) adalah titik poin terbaru menuju kematian Banteng kelak di 17 April 2019. Insya Allah.


Kawan saya memprotes, kenapa yang disebut selalu Banteng? Bukankah di sebelah sana ada yang lain? Saya tanya, maksudnya kodok? Dia tertawa. Banteng dan Kodok adalah makhluk Allah. Tak boleh dihina. Yang kita benci adalah manusia-manusia yang menyerupai sifat hewani.




Ini, namanya bahasa ungkapan. Bisa juga disebut majas. Tapi kalau dibahas, apa Banteng gak makin bingung? Wong tiket pesawat mahal aja kagetan!


Penyambutan untuk Jenderal di Pamekasan, bukan puncak kekuatan rakyat. Masih ada lagi yang lebih ramai. Insya Allah. Tapi apa yang terjadi adalah tanda alam yang tak bisa diabaikan.




Serius. Ini peringatan keras. Ini alarm yang sangat tegas. Jika barisan ini terus dijaga, kemenangan 17 April akan menjadi kado terindah sebelum bulan Ramadhan mulia tiba.


Santri itu bukan tipe orang jajahan dan petugas partai. Santri itu merdeka. Dia hanya patuh kepada Kiyai dan amat tak mudah mengarahkan dukungan politik, kecuali kepada sosok yang dia yakini.




Maka ribuan santri yang mengikuti, menyambut, mengantar, memanggul, dan mengacungi jari kemanangan kepada sang Jenderal adalah kepastian.


Mereka hanya akan mendukung kebaikan. Dan kebaikan itulah yang akan dimenangkan Tuhan.

Maka suasana merinding takjub seketika terjadi ketika kumandang Shalawat Badar menyambut Sang Jenderal. Sang Jenderal keluar di atas mobil, menyapa dengan jari, senyumnya sumringah.

Shalawat Badar kian kencang, lalu ditingkahi kalimat Allahu Akbar di sana-sini. Semakin merinding takjub ketika nama sang Jenderal diteriakkan berkali-kali.

"Prabowo... Prabowo..."

Kawan, ini adalah buah doa Mbah Yai yang sebut nama itu, padahal di sebelahnya ada Jaenuddin.

Pecinta Keluarga Sejati,
Pirman

Tarbawia
Bijak Bermedia, Hati Bahagia

Bergabung Untuk Dapatkan Berita/Artikel Terbaru:

Info Donasi/Iklan:

081391871737 (Telegram)



Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search